Selasa, 18 Maret 2014

Makalah Psikologi Pendidikan




MAKALAH
BELAJAR DAN FAKTOR YANG MEMPENGARUHI BELAJAR







Disusun  guna memenuhi tugas
 Mata Kuliah               : Psikologi Pendidikan
Dosen Pengampu        : Dr. Sopiah, M.Ag
 






Disusun oleh :
Depo Dana Pamungkas                  : 2021312036
Muhammad Afifuddin                   : 2021312037
Ibnu Baihaqi                                   : 2021312039
Saatun                                             : 2021312041

 
 



































SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN)
PEKALONGAN
2014
















PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Belajar adalah kegiatan yang berproses dan merupakan unsur yang sangat fundamental dalam setiap penyelenggaraan jenis dan jenjang pendidikan. Ini berarti bahwa berhasil atau gagalnya pencapaian pendidikan itu, amat  bergantung pada proses belajar yang dialami siswa. Baik ketika ia berada dilingkungan sekolah maupun di lingkungan rumah atau keluarganya sendiri.
Oleh karenanya, pemahaman yang benar mengenai arti belajar dengan segala aspek, bentuk, dan manifestasinya mutlak diperlukan oleh para pendidik khususnya para guru.
Kekeliruan atau ketidaklengkapan persepsi mereka terhadap proses belajar dan hal-hal yang berkaitan dengannya mungkin akan mengakibatkan kurang bermutunya hasil pembelajaran peserta didik.

B.     Rumusan Masalah
1.      Apakah definisi belajar itu?
2.      Bagaimana proses belajar itu berlangsung?
3.      Apa ragam alat belajar?
4.      Faktor – faktor apa yang mempengaruhi belajar?

C.    Metode Penulisan
Dalam memecahkan masalah yang terjadi dalam penulisan makalah ini,  penulis menggunakan beberapa referensi untuk memperlancar penulisan makalah ini. Dengan menggunakan beberapa referensi, penulis mempunyai pedoman dalam penulisan makalah ini. Jadi, apabila ada masalah atau pertanyaan tentang isi makalah, penulis bisa berpacu pada buku referensi yang digunakan dalam penulisan  makalah ini.

 

BAB I
BELAJAR

A.    Definisi dan Karakteristik Belajar
1.      Definisi Belajar
Sebagian orang beranggapan, bahwa belajar adalah semata-mata mengumpulkan atau menghafalkan fakta-fakta yang tersaji dalam bentuk informasi/materi pelajaran. Orang yang beranggapan seperti itu biasanya akan merasa bangga ketika anak-anaknya telah mampu menyebutkan kembali secara lisan (verbal) sebagian informasi yang terdapat dalam buku teks yang diajarkan oleh guru. Di samping itu, ada pula sebagian orang yang memandang belajar adalah latihan belaka yang tampak pada latihan membaca dan menulis. [1]
Skinner seperti yang dikutip Barlow 1985 dalm bukunya Educational Psychology : The Teaching Learning Proccess, brependapat bahwa belajar adalah sutau proses adaptasi atau penyesuaian  tingkah laku yang belangsung cecara progresif. Pendapat ini diungkapkan dalam rnyataan ringkasannya, bahwa belajar adalah . . . . a prosses of progressive behavior adaption. Berdasarkan eksperimennya, B.F Skinner percaya bahwa proses adaptasi tersebut akan mendatangkan hasil yang optimal apabila ia diberi penguat.
Caplin dalam Dictionary of Psychology membatasi bel;ajar dengan dua macam rumusan. Rumusan pertama berbunyi : . . . . acquistion of any relatively permanent change in behavior as a result of practice and experience. Belajar adalah perolehan perubahan tingkah laku yang relative menetap sebagai akibat latihan dan pengalaman. Rumusan keduanya prosses of acquiring responses as a result of special practice, belajar adalah proses memperoleh respon-respon sebagai akibat adanya latihan khusus.
Hintzman dalam bukunya The Psychology of Learning and Memory  berpendapat Learning is a change in organism due to experience which can affect the organism’s behavior. Artinya, belajar adalah suatu perubahan yang terjadi dalam diri organisme (manusia atau hewan) disebabkan oleh pengalaman yang dapat mempengaruhi oleh tingkah laku organism tersebut. Jadi, dalam pandangan Hintzman, perubahana yang ditimbulkan oleh pengalaman tersebut baru dapat dikatakan belajar apabila mempengaruhi organisme.
Dalam penjelasan selanjutnya, pakar psikologi itu menambahkan bahwa pengalaman sehari-hari dalam bentuk apapun sangat memungkinkan sekali dinamakan sebagai belajar. Sebab, sampai batas tertentu pengalaman hidup juga berpengaruh besar terhadap pembentukan  kepribadian organism yang bersangkutan. Mungkin dasar inilah yang mengilhami pemikiran gagasan everyday learning (belajar sehari-hari yang dipopulerkan oleh Prof. John B. Biggs)
Witting dalam bukunya Psychology of Learning mendefinisikan belajar sebagai : any relatively permanent change in an organism’s behavioral repertoire that occurs as a result of experience. Belajar ialah perubahan yang relative menetap yang terjadi dalam segala macam/ keseluruhan tingkah laku suatu organisme sebagai hasil pengalaman.
Reber dalam kamus susunanya yang tergolong modern, Dictionary of Psychology membatasi belajar dengan dua macam defenisi. Pertama, belajar adalah the procces of acquiring knowledge, yakni suatu pproses memperoleh pengetahuan. Pengertian ini biasanya lebih sering di pakai dalam pembahasan psikologi kognitif yang oleh sebagian ahli dipandang kurang representative karena tidak mengikutsertakan perolehan keterampilan nonkognitif. Kedua, belajar adalah a relatively permanent change in respons potentiality which occurs as a result of reinforced practice, yaitu suatu perubahan berreaksi yang relative langgeng sebagai hasil latihan yang diperkuat. Dalam pengertian ini terdapat empat macam istilah yang esensial dan perlu disoroti untuk memahami proses belajar.
a)      Relatively permanent, yang secara umum menetap.
b)      Response potentially, kemampuan bereaksi.
c)      Reinforcel, yang diperkuat.
d)     Practice, praktik atau latihan.
Istilah 1) konotasinya ialah bahwa perubahan yang bersifat sementara seperti perubahan karena mabuk, lelah, jenuh.  2) berarti menunjukan pengakuan terhadap adanya perbedaan antara belajar dan penampilan atau kinerja hasil-hasil belajar. Hal ini merefleksikan keyakainan bahwa belajar merupakan peristiwa hipotesis yang hanya dapat dikenali melalui  perubahan kinerja akademik yang dapat diukur. Istilah 3) konotasinya ialah bahwa kemajuan yang di dapat  dari proses belajar mungkin akan  musnah atau sangat lemah apabila tidak diberi penguatan. Sedangkan istilah yang terakhir, yakni practice, menunjukam bahwa proses belajar itu membutuhkan latihan yang berulang-ulang untuk menjalmin kelestarian kinerja akademik yang telah dicapai siswa.[2]
Biggs dalam pendahuluan Teaching of Learning mendefinisikan belajar dalam tiga macam rumusan, yaitu rumusan kuantitatif, rumusan institusional, rumusan kualitatif. Dalam rumusan – rumusan ini kata-kata seperti perubahan dan tingkah laku tak lagi disebut secara eksplisit mengingat kedua istilah ini sudah menjadi kebenaran umum yang diketahuhi semua orang yang terlibat dalam proses pendidikan. Secara kuantitatif (ditinjau dari sudut jumlah), belajar berarti kegiatan pengisian atau pengembangan kemampuan kognitif dengan fakta sebanyak-banyaknya. Jadi belajar, dalam hal ini dipandang dari sudut berapa banyak materi yang dikuasai siswa.
Secara institusional (tinjauan kelembagaan), belajar dipandang sebagai proses “validasi” atau pengabsahan terhadap penguasaan siswa atas materi-materi yang telah ia pelajari. Bukti institusional, yang menunjukkan siswa telah belajar dapat diketahui sesuai dengan proses mengajar. Ukurannya siswa semakin baik, mutu guru mengajar semakin baik pula, mutu perolehan siswa yang kemudian dinyatakan dalam bentuk skor.
Adapun pengertian belajar secara kualitatif (tinjauan mutu) ialah proses memperoleh arti-arti  dan pemahaman-pemahamn serta cara-cara menafsirkan dunia di sekeliling siswa. Belajar dalam pengertian ini difokuskan pada  tercapainya daya pikir dan tindakan yang berkualitas. Untuk memecahkan masalah-masalah yang kini dan nanti dihadapi siswa.
Hilgard dan Bower, dalam buku Theories of Learning (1975) mengemukakan, “Belajar berhubungan dengan perubahan tingkah laku seseorang terhadap sesuatu situasi tertentu yang disebabkan oleh pengalamannya yang berulang-ulang dalam situasi itu, dimana perubahan tingkah lku itu tidak dapat di jelaskan atau dasar kecenderungan respons pembawaan, kematangan, atau keadaan-keadaan sesaat seseorang (misalnya kelelahan, pengaruh obat, dan sebagainya).”
Gagne dalam buku The Conditions of Learning (1977) menyatakan bahwa: “Belajar terjadi pabila situasi stimulus bersama dengan isi ingatan mempengaruhi siswa sedemikian rupa sehingga perbuatannya berubah dari waktu sebelum ia mengalami situasi itu ke waktu sesudah ia mengalami situasi tadi”.
Morgan, dalam buku Introduction to Psychology (1978) mengemukakan : “Belajar adalah setiap perubahan yang relative menetap dalam tingkah laku yang terjadi sebagai suatu hasil dari latihan atau pengalaman”.
Witherington, dalam buku Educational Psychology mengemukakan: “Belajar adalah suatu perubahan di dalam kepribadian yang menyatakan diri sebagai suatu pola baru dari pada reaksi yang berupa kecakapan, sikap, kebiasaan, kepandaian, atau suatu pengertian”.[3]

2.      Karakteristik Belajar
Secara emplisit, dapat diidentifikasikan beberapa cirri perubahan yang merupakan perilaku belajar, di antaranya :
a)      Bahwa perubahan intensional, dalam arti pengalaman atau praktik atau latihan itu dengan sengaja dan disadari dilakukannya dan bukan secara kebetulan, dengan demikian perubahan karena kemantapan dan kematangan atau keletihan atau karena penyakit tidak dapat di pandang sebagai perubahan hasil belajar.
b)      Bahwa perubahan itu positif, dalam arti sesuai yang diharapkan (normative) atau kriteria keberhasilan baik, di pandang dari segi siswa (tingkat apibilititas dan bakat khususnya ) maupun dari segi guru (tuntutan masyarakat orang dewasa sesuai dengan tingkatan standar kulturalnya).
c)      Bahwa perubahan itu efektif, dalam arti membawa pengaruh dan makna tertentu bagi pelajar itu (setidak-tidaknya sampai batas waktu tertentu) relative tetap dan setiap saat diperlukan dapat direproduksi dan dipergunakan seperti dalam pemecahan masalah baik dalam ujian, ulangan, dan sebagainya maupun dalm penyesuaian diri dalam kehidupan sehari-hari dalam rangka mempertahankan kelangsungan hidupnya.[4]

B.     Proses Belajar
1.      Belajar dan Kematangan
Kematangan merupakan suatu proses pertumbuhan organ-organ. Suatu organ dalam diri makhluk hidup dikatakan matang apabila ia telah mencapai kesanggupan untuk menjalankan fungsinya masing-masing. Kematangan itu datang waktunya dengan sendirinya. Sedangkan belajar lebih membutuhkan kegiatan yang di sadari, suatu aktifitas, latihan-latihan dan konsentrasi dari orang yang bersangkutan . Proses belajar terjadi karena perangsang dari luar sedangkan kematangan terjadi dari dalam.
2.      Belajar dan Penyesuaian Diri
Penyesuaian diri merupakan juga proses yang dapat merubah tingkah laku manusia. Penyesuaian diri ada dua macam :
a)      Penyesuaian diri atuoplastis, seseorang merubah dirinya disesuaikan dengan keadaan lingkungan / dunia luar.
b)      Penyesuaian diri aloplastis, yang berarti lingkungan / dunia luar disesuaikan dengan kebutuhan dirinya.
3.      Belajar dan Pengalaman
Belajar dan pengalaman keduanya merupakan suatu proses yang dapat merubah sikap, tingkah laku dan pengetahuan kita. Akan tetapi belajar dan memperoleh pengalaman adlah berbeda. Mengalami sesuatu belum tentu belajar dalam arti pedagogis, tetapi sebaliknya tiap-tiap belajar berarti juga mengalami.
Contoh pengalaman yang bukan merupakan belajar adalah : karena mengalami sesuatu yang menyedihkan dapat menimbulkan apatis dan putus asa pada sesesorang.
4.      Belajar dan bermain
Dalam bermain juga terjadi proses belajar. Persamannya adalah bahwa dalam belajar dan bermain keduanya terjadi perubahan, yang dapat  mengubah tingkah laku, sikap, dan pengalaman.
Akan tetapi aantar keduanya terdapat perbedaaan. Menurut arti katanya, bermain merupakan kegiatan yang khusus bagi anak-anak meskipun pada orang dewasa terdapat juga. Sedangkan belajar merupakan kegiatan yang umum, terdapat pada manusia sejak lahir sampai mati.
5.      Belajar dan Pengertian
Belajar mempunyai arti yang lebih luas daripada mencapai pengertian. Ada proses belajar yang berlangsung secara otomatis tanpa pengertian. Sebaliknya ada pula pengertian yang tidak menimbulkan  proses belajar. Dengan mendapatkan sesuatu pengertian tertentu, belum tentu seseorang kemudian berubah tingkah lakunya.

6.      Belajar dan Menghafal
Menghafal/mengingat tidak sama dengan belajar, hafal/ingat sesuatu belum menjamin bahwa dengan demikian seseorang sudah belajar dalam arti yang sebenarnya. Sebab untuk mengetahui sesuatu tidak hanya dengan menghafal saja, tetapi harus dengan pengertian.
Maksud belajar adalah menyediakan pengalamn-pengalaman untuk menghadapi soal-soal di masa depan. Jika pengalamn-pengalaman itu hanya sesuatu yang statis, yang tidak berguna untuk adanya perubahan dalam tingkah laku, maka hal tersebut tidak dinamakan proses belajar.

7.      Belajar dan Latihan
Persamaanya adalah bahwa keduanya dapat menyebabkan perubahan dalam tingkah laku, sikap dan pengetahuan. Akan tetapi antara keduanya terdapat pula perbedaan. Di dalam praktek terdapat pula proses belajar yang terjadi tanpa latihan.
Umpama, seorang anak yang terbakar tangannya di dapur, sekali saja ia tahu bahwa api itu panas. Jadi belajar mempunyai arti yang lebih luas daripada latihan.[5]

C.    Ragam Alat Belajar
Islam memandang umat manusia sebagai makhluk yang dilahirkan dalam keadaan kosong, tak berilmu pengetahuan. Akan tetapi Tuhan memberikan potensi yang bersifat jamaniah dan rohaniah untuk belajar dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk kemaslahatan umat manusia itu sendiri. Potensi-potensi tersebut terdapat dalam ragam-ragam fisio-psikis manusia yang berfungsi sebagai alat-alat penting untuk melakukan kegiatan belajar. Adapun ragam alat fisio-psikisitu adalah sebagai berikut!
1.      Indera penglihat (mata), akni alat fisik yang berguna untuk menerima informasi visual.
2.      Indera pendengar (telinga), yakni alat fisik yang berguna untuk menerima informasi verbal.
3.      Akal, yakni potensi kejiwaan manusia berupa system psikis yang kompleks untuk menyerap, mengolah, menyimpan, dan memproduksi kembali item-item informasi dan pengetahuan (ranah kognitif).
Akat-alat yang bersifat fisio-psikis itu dalam hubunganya dengan kegiatan belajar merupakan subsistem-subsistem yang satu sama lain berhubungan secara fungsional.[6]


BAB II
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI BELAJAR


Secara global, faktor-faktor yang mempengaruhi belajar siswa daat dibedakan menjadi tiga macam yaitu : Faktor Internal (faktor dari dalam siswa), yakni keadaan/kondisi jasmani dan rohani siswa, Faktor Eksternal (faktor dari luar siswa), yakni kondisi lingkungan di sekitar siswa, Faktor pendekatan belajar (approach to learning), yakni jenis upaya belajar siswa yang meliputi strategi dan metode yang digunakan siswa untuk melakukan kegiatan pembelajaran materi-materi pelajaran.

1.      Faktor Internal Siswa
Faktor yang berasal dari dalam diri siswa sendiri meliputi dua aspek, yakni aspek fisiologis (yang bersifat jasmaniah), dan aspek psikologis (yang bersifat rohaniah).
A.    Aspek Fisiologis
Kondisi umum jasmani dan tonus (tegangan otot) yang menandai tingkat kebugaran organ-organ tubuh dan sendi-sendinya, dapat mempengaruhi semangat dan intensitas siswa dalam mengikti pelajaran. Kondisi organ tubuh yang lemah, apalagi disertai dengan pusing-pusing kepala misalnya, dapat menurunkan kualitas ranah cipta (kognitif) sehingga materi yang dipelajarinya pun kurang atau tidak berbekas. Untuk mempertahankan tonus jasmani agar tetap bugar, siswa sangat dianjurkan mengonsumsi makanan dan minuman yang bergizi. Selain itu, siswa juga dianjurkan memili pola istirahat dan olahraga ringan yang sedapat mungkin terjadwal secara tetap dan berkesinambungan. Hal ini penting, sebab, perubahan pola makan minum dan istirahat akan menimbulkan reaksi tonus yang negatif dan merugikan semangat mental siswa itu sendiri.
Kondisi organ-organ khusus siswa, seperti tingkat kesehatan indera pendengar dan indera penglihat, juga sangat mempengaruhi kemampuan siswa dalam menyerap informasi dan pengtahuan, khususnya yang disajikan di dalam kelas. Daya pendengaran dalam englihatan siswa yang rendah umpamanya, akan menyulitkan sensory register dl menyerap item-item Informasi yang bersifat echoic dan econic (gema dan citra). Akibatnya negatif selanjutnya adalah erhambatnya proses informasi yang dilakukan oleh sistem memory siswa tersebut.
Untuk mengatasi kemungkinan dari timbulnya maslah mata dan telinga di atas, anda selaku guru profesional seyogianya bekerja sama dengan pihak sekolah untuk memperoleh bantuan pemeriksaan rutin (periodik) dari dinas-dinas kesehatan setempat. Kiat lain yang tak kalah penting untuk mengtasi kekurangsempurnaan penengaran dan penglihatan siswa-siswa tertentu itu ialah dengan menempakan mereka di deretan bangku terdepan secara bijaksana. Artinya anda tidak perlu menunjukan sikap dan alasan didepan kelas bahwa mereka di tempatkan di depan kelas karena kekurangbaikan telinga dan mata mereka. Langkah ini perlu di diambil untuk mempertahankan self-eteem dan self-confidence siswa-siswa khusus tersebut. Kemrosotan self-eteem dan self-confidence (rasa percaya diri) siswa akan menimbulkan frustasi yang akan menjadikan siswa under-achiever atau mungkin gagal, meskipun kapasitas kognitif mereka normal atau lebih tinggi daripada teman-temannya.

B.     Aspek Psikologis
Banyak faktor yang termasuk faktor psikologis yang dapat mempengaruhi kuantitas dan kualitas perolehan pembelajaran siswa. Namun, diantara faktor-faktor rohaniah siswa yang pada umumnya dipandang lebih esesnsial itu adalah sebagai berikut:

1)      Tingkat kecerdasan/inteligensi siswa
Inteligensi pada umumnya dapat diartikan sebagai psiko-fisik untuk mereeaksi rangsangan atau menyesuaikan diri dengan lingkungannya dengan cara tepat (Reber 1988). Jadi inteligensi sebenarnya bukan kualitas kecerdasn otak saja, melainkan juga  kualitas organ-organ tubuh lainnya. Akan tetapi memang harus diakui bahwa peran otak dalam hubungannya dengan inteligensi manusia lebih menonjol daripada peran organ-organ tubuh lainnya. Lantaran otak merupakan “menara pengontrol” hampir seluruh aktivitas manusia. Tingkat kecerdasan / inteligensi siswa tak dapat diragukan lagi, sangat menentukan keberhasilan belajar siswa. Ini bermakna, semakin tinggi tingkat inteligensi siswa maka semakin besar peluangnya untuk meraih sukses. Sebalikya, semakin rendah tingkat inteligensi siswa, maka semakin kecil peluang untuk meraih sukses.

2)      Sikap siswa
Sikap adalah gejala internl yang berdimensi afektif beerupa keenderungan untuk mereaksi atau merespons (response tendency) dengan cara yang relatif tetap terhadap objek orang, barang, dan sebaganya, baik secara postif maupun negatif. Sikap (attitude) siswa yang positif, terutama kepada anda dan mata pelajaran yang anda sajikan merupakan pertanda awal yang baik bagi proses belajar siswa tersebut. Sebaliknya, sikap negatif siswa terhadap anda dan mata pelajaran yang anda sajikan, apalagi diiringi dengan kebencian kepada anda atau mata pelajaran anda dapat menimbulkan kesulitan belajar siswa tersebut. Selain itu, sikap terhadap ilmu pengetahuan yang bersifat conversing walaupun tidak menimbulkan kesulitan belajar, namun prestasi yang dcapai siswa urang memuaskan.
Untuk mengantisipasi kemungkinan munculnya sifat negatif siswa seperti tersebut di atas, guru dituntut untuk terlebih dahulu menunjukkan sikap positif terhadap dirinya sendiri dan terhadap mata pelajaran yang menjadi vaknya. Dalam hal bersikap positif terhadap mata pelajarannya, seorang guru sangat dianjurkan senantiasa untuk menghargai dan mencintai profesinya. Guru yang demikian tidak hanya menguasai bahan-bahan yang terdapat dalam bidang studinya, tetapi juga mampu meyakinkan terhadap para siswa akan manfaat bidang studi itu bagi kehidupan mereka. Dengan meyakini manfaat bidang studi tertentu, siswa akan merasa membutuhkannya, dari perasaan butuh itulah diharapkan muncul sikap positif terhadap bidang studi tersebut sekaligus terhadap guru yang mengajarkannya.

3)      Bakat siswa
Secara umum bakat (aptitude) adalah kemampuan potensial yang dimiliki seseorang untuk mencapai keberhasilan pada masa yang akan datang. Dengan demikian, setiap orang pasti memiliki bakat dalam arti berpotensi untuk mencapai prestasi sampai ke tingkat tertentu sesuai dengan kapasitas masing-masing. Jadi secara global, bakat itu mirip dengan inteligensi. Itulah sebabnya seoang anak yang berinteligensi sangat cerdas (superior) atau cerdas luar biasa (very superior)  disebut juga sebagai talented child, yakni anak berbakat.
Dalam perkembangan selanjutnya, bakat kemudian diartikan sebagai kemampuan individu untuk melakukan tugas tertentu tanpa banyak bergantung pada upaya pendidikan dan latihan. Seorang siswa yang berbakat dalam bidang elektro, misalnya, akan jauh lebih mudah menyerap informasi, pengetahua, dan keterampilan yang berhubungan dengan bidang tersebut dibanding dengan siswa lainnya, inilah yang kemudian disebut baka khusus (spesifik aptitude).
Sehubungan dengan hal di atas, bakat akan dapat mempengaruhi tinggi rendahnya prestasi elajar dibidang studi tertentu.

4)      Minat siswa
Secara sederhana minat (interest) berarti kecenderungan dan kegairahan yang tinggi atau keinginan yang besar terhadap sesuatu. Menurut Riber (1988) minat tidak termasuk istilah populer dalam psikologi karena ketergantungnya yang banyak terhadap faktor-faktor internal lainnya seperti rasa keingintahuan, pemusatan perhatian, dan kebutuhan. Namun telepas dari masalah populer atau tidak, minat seperti yang dipahami dan dipakai orang selama ini dapat mempengaruhi kualitas pencapaian hasil belajar siswa dalam bidang studi tertentu.
5)      Motivasi siswa
Pengertian dasar motivasi adalah keadaan internal organisme baik manusia ataupun hewan yang mendorongya untuk berbuat sesuatu. Dalam pengertian ini motivasi berarti pemasok daya (energizer) untuk bertingkh laku secara terarah.
Dalam perkembangan selanjutnya motivasi dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu motivasi intrinsik, dan motivasi ekstrinsik. Motivasi intrinsik yaitu hal dan keadaan yang berasal dari dalam diri siswa sendiri yang dapat mendorongnya melakukan tindakan belajar. Seperti perasaan menyenangi materi dan kebutuhannya terhadap materi tersebut.
Adapun motivasi ekstrinsik yaitu hal dan keadaan yang datang dari luar individu siswa yang juga mendorongnya untuk melakukan beajar, seperti pujian, hadiah, peraturan skolah, suri teladan, orang tua, guru dan seterusnya. Kekurangan atau ketiadaan motivasi baik yang bersifat intrinsik maupun ekstrinsik akan menyebabkan kurang bersemangatnya siswa dalam melakukan proses pembelajaran.[7]

2.      Faktor Eksternal Siswa
A.    Lingkungan Sosial
Lingkungan sosial sekolah seperti para guru, para staff administrasi, dan teman-teman belajar dapat mempengaruhi semangat belajar siswa. Para guru yang selalu menunjukan sikap dan perilaku yang simpatik dan memperlihatkan suri teladan yang baik dan rajin khususnya dalam hal belajar, misalnya rajin membaca dan berdiskusi, dapat menjadi daya dorong yang positif bagi kegiatan belajar siswa.
Selanjutnya yang termasuk lingkungan sosial siswa adalah masyarakat dan tetanga juga teman-teman sepermainan di sekitar perkampungan siswa tersebut. Kondisi masyarakat di lingkungan kumuh yang serba kekurangan dan anak-anak penganggur, misalnya akan sangat mempengaruhi aktivitas belajar siswa.
Lingkungan sosial yang lebih banyak mempengaruhi kegiatan belajar siswa adalah orang tua dan keluarga siswa itu sendiri. Sifat – sifat orang tua, praktik pengelolaan keluarga, ketegangan keluarga, dan demografi keluarga semuanya dapat memberi dampak ataupun buruk terhadap kegiatan belajar dan hasil yang dicapai siswa. Contoh : kebiasaan yang diterapkan orang tua siswa dalam mengelola keluarga yang keliru, seperti kelalaian orang tua dalam memonitor kegiatan anak, dapat menimbulkan dampak terhadap anak yang lebih buruk lagi.
B.     Lingkungan Nonsosial
Faktor-faktor yang  termasuk lingkungan nonsosial adalah gedung sekolah dan letaknya, rumah tempat tinggal keluarga siswa dan letaknya, alat-alat belajar, keadaan cuaca dan waktu belajar yang digunakan siswa. Factor ini dipandang turut menentukan keberhasilan belajar siswa.
Contoh, kondisi rumah yang sempit dan berantakan serta perkampungan yang terlalu padat dan tidak memiliki saran umum untuk kegiatan remaja akan mendorong siswa ke tempat-tempat yang sebenarnya tak pantas dikunjungi. Kondisi rumah dan perkampungan seperti itu jelas berpengaruh buruk pada kegiatan belajar siswa.
Khusus mengenai waktu yang disenangi untuk belajar (studi time preference) seperti pagi atau sore hari, seorang ahli bernama J. Biggers (1980) berpendapat bahwa belajar pada pagi hari lebih efektif daripada belajar pada waktu-waktu lainnya. Namun menurut penelitian beberapa ahli gaya belajar (learning style), hasil belajar itu tidak bergantung pada waktu secara mutlak, tetapi bergantung pada pilihan waktu yang cocok dengan kesiapsiagaan siswa. Di antara siswa ada yang siap belajar pada pagi hari ada yang siap belajar pada sore hari, bahkan tengah malam.
Dengan demikian, waktu yang digunakan belajar siswa selama ini sering dipercaya terhadap prestasi belajar siswa, tak perlu dihiraukan.

3.      Faktor Pendekatan Belajar
Pendekatan belajar, dipahami sebagai segala cara atau strategi yang digunakan siswa dalam menunjang efktivitas dan efisiensi proses pembelajaran materi tertentu strategi dalam hal ini berarti seperangkat langkah operasional yang direkayasa sedemikian rupa untuk memecahkan masalah atau mencapai tujuan belajar tertentu (Lawson, 1991).
Disamping faktor internal dan eksternal siswa sebagaimana yang telah dipaparkan, faktor pendekatan belajar juga berpengaruh terhadap taraf keberhasilan belajar siswa. Seorang siswa yang terbiasa mengaplikasikan pendekatan belajar misalnya, mungkin sekali berpeluang untuk meraih prestasi belajar. [8]

PENUTUP

A.    Simpulan
Dari urain diatas, dapat ditarik beberapa kesimpulan :
      Belajar adalah kegiatan yang berproses dan merupakan unsur yang sangat fundamental dalam setiap penyelenggaraan jenis dan jenjang pendidikan. Ini berarti bahwa berhasil atau gagalnya pencapaian pendidikan itu, amat  bergantung pada proses belajar yang dialami siswa. Baik ketika ia berada dilingkungan sekolah maupun di lingkungan rumah atau keluarganya sendiri.
Berlangsungnya proses belajar dapat melalui :


1.      Belajar dan Kematangan
2.      Belajar dan Penyesuaian Diri
3.      Belajar dan Pengalaman
4.      Belajar dan bermain
5.      Belajar dan Pengertian
6.      Belajar dan Menghafal
7.      Belajar dan Latihan


Faktor Yang Mempengaruhi Belajar
Internal Siswa
Eksternal Siswa
Pendekatan Belajar Siswa
A.    Aspek Fisiologis
-          Tonus Jasmani
-          Mata dan telinga
B.     Aspek Psikologis
-          Inteligensi
-          Sikap
-          Minat
-          Bakat
-          Motivasi

A.    Lingkungan Sosial
-          Keluarga
-          Guru dan staff
-          Masyarakat
-          Teman
B.     Lingkungan Nonsosial
-          Rumah
-          Sekolah
-          Peralatan
-          Alam
-
B.     Saran
Dari hasil makalah yang telah dibuat oleh kami, tentunya banyak kesalahan serta kekurangannya, oleh karena itu kami mohon saran dari pembaca bila mana pembaca menemukan kekurangan yang ada dalam makalah ini. Dan kami harapkan semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua khususnya bagi pembaca yang budiman.



DAFTAR PUSTAKA

Makmun, Abin Syamsudin, 2004, Psikologi Pendidikan, Bandung : Remaja Rosdakarya
Suradi, Dedy, 2007, Psikologi Pendidikan, Bandung : Remaja Rosdakarya
Syah, Muhibbin, 2007, Psikologi  Pendidikan, Bandung : Remaja Rosdakarya




[1] Syah, Muhibbin, Psikologi  Pendidikan, Remaja Rosdakarya, 2007, Bandung, hlm 89.
[2] Ibid, hal : 91
[3] Suradi, Dedy, Psikologi Pendidikan, Remaja Rosdakarya, 2007, Bandung, hlm 84.

[4] Makmun, Abin Syamsudin. Psikologi Pendidikan, Remaja Rosdakarya, 2004, Bandung, hlm 158
[5] Ibid, hal : 89
[6] Syah, Muhibbin, Psikologi  Pendidikan, Remaja Rosdakarya, 2007, Bandung, hlm 102.
[7] Syah, Muhibbin, Psikologi  Pendidikan, Remaja Rosdakarya, 2007, Bandung, hlm 137.
[8] Ibid, hal : 139

Tidak ada komentar:

Posting Komentar