MAKALAH
BELAJAR DAN FAKTOR YANG MEMPENGARUHI BELAJAR
|
||||||
![]() |
||||||
|
||||||
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN)
PEKALONGAN
2014
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang Masalah
Belajar
adalah kegiatan yang berproses dan merupakan unsur yang sangat fundamental
dalam setiap penyelenggaraan jenis dan jenjang pendidikan. Ini berarti bahwa
berhasil atau gagalnya pencapaian pendidikan itu, amat bergantung pada proses belajar yang dialami
siswa. Baik ketika ia berada dilingkungan sekolah maupun di lingkungan rumah
atau keluarganya sendiri.
Oleh
karenanya, pemahaman yang benar mengenai arti belajar dengan segala aspek,
bentuk, dan manifestasinya mutlak diperlukan oleh para pendidik khususnya para
guru.
Kekeliruan
atau ketidaklengkapan persepsi mereka terhadap proses belajar dan hal-hal yang
berkaitan dengannya mungkin akan mengakibatkan kurang bermutunya hasil
pembelajaran peserta didik.
B.
Rumusan
Masalah
1. Apakah definisi belajar itu?
2. Bagaimana proses belajar itu berlangsung?
3. Apa ragam alat belajar?
4. Faktor – faktor apa yang mempengaruhi belajar?
C.
Metode
Penulisan
Dalam memecahkan masalah yang
terjadi dalam penulisan makalah ini,
penulis menggunakan beberapa referensi untuk memperlancar penulisan
makalah ini. Dengan menggunakan beberapa referensi, penulis mempunyai pedoman
dalam penulisan makalah ini. Jadi, apabila ada masalah atau pertanyaan tentang isi
makalah, penulis bisa berpacu pada buku referensi yang digunakan dalam
penulisan makalah ini.
BAB I
BELAJAR
A. Definisi
dan Karakteristik Belajar
1.
Definisi Belajar
Sebagian orang beranggapan,
bahwa belajar adalah semata-mata mengumpulkan atau menghafalkan fakta-fakta
yang tersaji dalam bentuk informasi/materi pelajaran. Orang yang beranggapan
seperti itu biasanya akan merasa bangga ketika anak-anaknya telah mampu
menyebutkan kembali secara lisan (verbal) sebagian informasi yang terdapat
dalam buku teks yang diajarkan oleh guru. Di samping itu, ada pula sebagian
orang yang memandang belajar adalah latihan belaka yang tampak pada latihan
membaca dan menulis. [1]
Skinner seperti yang dikutip
Barlow 1985 dalm bukunya Educational
Psychology : The Teaching Learning Proccess, brependapat bahwa belajar
adalah sutau proses adaptasi atau penyesuaian
tingkah laku yang belangsung cecara progresif. Pendapat ini diungkapkan dalam
rnyataan ringkasannya, bahwa belajar adalah . . . . a prosses of progressive behavior adaption. Berdasarkan
eksperimennya, B.F Skinner percaya bahwa proses adaptasi tersebut akan
mendatangkan hasil yang optimal apabila ia diberi penguat.
Caplin dalam Dictionary of Psychology membatasi
bel;ajar dengan dua macam rumusan. Rumusan pertama berbunyi : . . . . acquistion of any relatively permanent
change in behavior as a result of practice and experience. Belajar adalah
perolehan perubahan tingkah laku yang relative menetap sebagai akibat latihan
dan pengalaman. Rumusan keduanya prosses
of acquiring responses as a result of special practice, belajar adalah
proses memperoleh respon-respon sebagai akibat adanya latihan khusus.
Hintzman dalam bukunya The
Psychology of Learning and Memory
berpendapat Learning is a change in organism due to experience which can
affect the organism’s behavior. Artinya, belajar adalah suatu perubahan yang
terjadi dalam diri organisme (manusia atau hewan) disebabkan oleh pengalaman yang
dapat mempengaruhi oleh tingkah laku organism tersebut. Jadi, dalam pandangan
Hintzman, perubahana yang ditimbulkan oleh pengalaman tersebut baru dapat
dikatakan belajar apabila mempengaruhi organisme.
Dalam penjelasan
selanjutnya, pakar psikologi itu menambahkan bahwa pengalaman sehari-hari dalam
bentuk apapun sangat memungkinkan sekali dinamakan sebagai belajar. Sebab,
sampai batas tertentu pengalaman hidup juga berpengaruh besar terhadap
pembentukan kepribadian organism yang
bersangkutan. Mungkin dasar inilah yang mengilhami pemikiran gagasan everyday learning (belajar sehari-hari
yang dipopulerkan oleh Prof. John B. Biggs)
Witting dalam bukunya Psychology of Learning mendefinisikan
belajar sebagai : any relatively
permanent change in an organism’s behavioral repertoire that occurs as a result
of experience. Belajar ialah
perubahan yang relative menetap yang terjadi dalam segala macam/ keseluruhan
tingkah laku suatu organisme sebagai hasil pengalaman.
Reber dalam kamus susunanya
yang tergolong modern, Dictionary of Psychology membatasi belajar dengan dua
macam defenisi. Pertama, belajar adalah the procces of acquiring knowledge,
yakni suatu pproses memperoleh pengetahuan. Pengertian ini biasanya lebih
sering di pakai dalam pembahasan psikologi kognitif yang oleh sebagian ahli
dipandang kurang representative karena tidak mengikutsertakan perolehan
keterampilan nonkognitif. Kedua, belajar adalah a relatively permanent change in respons potentiality which occurs as a
result of reinforced practice, yaitu suatu perubahan berreaksi yang
relative langgeng sebagai hasil latihan yang diperkuat. Dalam pengertian ini
terdapat empat macam istilah yang esensial dan perlu disoroti untuk memahami
proses belajar.
a)
Relatively
permanent, yang secara umum menetap.
b)
Response
potentially, kemampuan bereaksi.
c)
Reinforcel, yang
diperkuat.
d)
Practice,
praktik atau latihan.
Istilah 1) konotasinya ialah bahwa perubahan yang
bersifat sementara seperti perubahan karena mabuk, lelah, jenuh. 2) berarti menunjukan pengakuan terhadap
adanya perbedaan antara belajar dan penampilan atau kinerja hasil-hasil
belajar. Hal ini merefleksikan keyakainan bahwa belajar merupakan peristiwa
hipotesis yang hanya dapat dikenali melalui
perubahan kinerja akademik yang dapat diukur. Istilah 3) konotasinya
ialah bahwa kemajuan yang di dapat dari
proses belajar mungkin akan musnah atau
sangat lemah apabila tidak diberi penguatan. Sedangkan istilah yang terakhir,
yakni practice, menunjukam bahwa proses belajar itu membutuhkan latihan yang
berulang-ulang untuk menjalmin kelestarian kinerja akademik yang telah dicapai
siswa.[2]
Biggs dalam pendahuluan Teaching of Learning mendefinisikan
belajar dalam tiga macam rumusan, yaitu rumusan kuantitatif, rumusan
institusional, rumusan kualitatif. Dalam rumusan – rumusan ini kata-kata
seperti perubahan dan tingkah laku tak lagi disebut secara eksplisit mengingat
kedua istilah ini sudah menjadi kebenaran umum yang diketahuhi semua orang yang
terlibat dalam proses pendidikan. Secara kuantitatif (ditinjau dari sudut jumlah),
belajar berarti kegiatan pengisian atau pengembangan kemampuan kognitif dengan
fakta sebanyak-banyaknya. Jadi belajar, dalam hal ini dipandang dari sudut
berapa banyak materi yang dikuasai siswa.
Secara institusional
(tinjauan kelembagaan), belajar dipandang sebagai proses “validasi” atau
pengabsahan terhadap penguasaan siswa atas materi-materi yang telah ia
pelajari. Bukti institusional, yang menunjukkan siswa telah belajar dapat
diketahui sesuai dengan proses mengajar. Ukurannya siswa semakin baik, mutu
guru mengajar semakin baik pula, mutu perolehan siswa yang kemudian dinyatakan
dalam bentuk skor.
Adapun pengertian belajar
secara kualitatif (tinjauan mutu) ialah proses memperoleh arti-arti dan pemahaman-pemahamn serta cara-cara
menafsirkan dunia di sekeliling siswa. Belajar dalam pengertian ini difokuskan
pada tercapainya daya pikir dan tindakan
yang berkualitas. Untuk memecahkan masalah-masalah yang kini dan nanti dihadapi
siswa.
Hilgard dan Bower, dalam
buku Theories of Learning (1975)
mengemukakan, “Belajar berhubungan dengan perubahan tingkah laku seseorang
terhadap sesuatu situasi tertentu yang disebabkan oleh pengalamannya yang
berulang-ulang dalam situasi itu, dimana perubahan tingkah lku itu tidak dapat
di jelaskan atau dasar kecenderungan respons pembawaan, kematangan, atau
keadaan-keadaan sesaat seseorang (misalnya kelelahan, pengaruh obat, dan
sebagainya).”
Gagne dalam buku The Conditions of Learning (1977)
menyatakan bahwa: “Belajar terjadi pabila situasi stimulus bersama dengan isi
ingatan mempengaruhi siswa sedemikian rupa sehingga perbuatannya berubah dari
waktu sebelum ia mengalami situasi itu ke waktu sesudah ia mengalami situasi
tadi”.
Morgan, dalam buku Introduction to Psychology (1978)
mengemukakan : “Belajar adalah setiap perubahan yang relative menetap dalam
tingkah laku yang terjadi sebagai suatu hasil dari latihan atau pengalaman”.
Witherington, dalam buku Educational Psychology mengemukakan:
“Belajar adalah suatu perubahan di dalam kepribadian yang menyatakan diri
sebagai suatu pola baru dari pada reaksi yang berupa kecakapan, sikap,
kebiasaan, kepandaian, atau suatu pengertian”.[3]
2. Karakteristik Belajar
Secara emplisit, dapat diidentifikasikan beberapa
cirri perubahan yang merupakan perilaku belajar, di antaranya :
a)
Bahwa perubahan
intensional, dalam arti pengalaman atau praktik atau latihan itu dengan sengaja
dan disadari dilakukannya dan bukan secara kebetulan, dengan demikian perubahan
karena kemantapan dan kematangan atau keletihan atau karena penyakit tidak dapat
di pandang sebagai perubahan hasil belajar.
b)
Bahwa perubahan
itu positif, dalam arti sesuai yang diharapkan (normative) atau kriteria keberhasilan baik, di pandang dari segi
siswa (tingkat apibilititas dan bakat khususnya ) maupun dari segi guru (tuntutan
masyarakat orang dewasa sesuai dengan tingkatan standar kulturalnya).
c)
Bahwa perubahan
itu efektif, dalam arti membawa pengaruh dan makna tertentu bagi pelajar itu
(setidak-tidaknya sampai batas waktu tertentu) relative tetap dan setiap saat
diperlukan dapat direproduksi dan dipergunakan seperti dalam pemecahan masalah
baik dalam ujian, ulangan, dan sebagainya maupun dalm penyesuaian diri dalam
kehidupan sehari-hari dalam rangka mempertahankan kelangsungan hidupnya.[4]
B. Proses
Belajar
1. Belajar dan Kematangan
Kematangan merupakan suatu proses pertumbuhan
organ-organ. Suatu organ dalam diri makhluk hidup dikatakan matang apabila ia
telah mencapai kesanggupan untuk menjalankan fungsinya masing-masing.
Kematangan itu datang waktunya dengan sendirinya. Sedangkan belajar lebih
membutuhkan kegiatan yang di sadari, suatu aktifitas, latihan-latihan dan
konsentrasi dari orang yang bersangkutan . Proses belajar terjadi karena
perangsang dari luar sedangkan kematangan terjadi dari dalam.
2. Belajar dan Penyesuaian Diri
Penyesuaian diri merupakan juga proses yang dapat
merubah tingkah laku manusia. Penyesuaian diri ada dua macam :
a)
Penyesuaian diri
atuoplastis, seseorang merubah dirinya disesuaikan dengan keadaan lingkungan /
dunia luar.
b)
Penyesuaian diri
aloplastis, yang berarti lingkungan / dunia luar disesuaikan dengan kebutuhan
dirinya.
3. Belajar dan Pengalaman
Belajar dan pengalaman keduanya merupakan suatu proses
yang dapat merubah sikap, tingkah laku dan pengetahuan kita. Akan tetapi
belajar dan memperoleh pengalaman adlah berbeda. Mengalami sesuatu belum tentu
belajar dalam arti pedagogis, tetapi sebaliknya tiap-tiap belajar berarti juga
mengalami.
Contoh pengalaman yang bukan merupakan belajar adalah
: karena mengalami sesuatu yang menyedihkan dapat menimbulkan apatis dan putus
asa pada sesesorang.
4. Belajar dan bermain
Dalam bermain juga terjadi proses belajar. Persamannya
adalah bahwa dalam belajar dan bermain keduanya terjadi perubahan, yang
dapat mengubah tingkah laku, sikap, dan
pengalaman.
Akan tetapi aantar keduanya terdapat perbedaaan.
Menurut arti katanya, bermain merupakan kegiatan yang khusus bagi anak-anak
meskipun pada orang dewasa terdapat juga. Sedangkan belajar merupakan kegiatan
yang umum, terdapat pada manusia sejak lahir sampai mati.
5. Belajar dan Pengertian
Belajar mempunyai arti yang lebih luas daripada
mencapai pengertian. Ada proses belajar yang berlangsung secara otomatis tanpa
pengertian. Sebaliknya ada pula pengertian yang tidak menimbulkan proses belajar. Dengan mendapatkan sesuatu
pengertian tertentu, belum tentu seseorang kemudian berubah tingkah lakunya.
6. Belajar dan Menghafal
Menghafal/mengingat tidak sama dengan belajar,
hafal/ingat sesuatu belum menjamin bahwa dengan demikian seseorang sudah
belajar dalam arti yang sebenarnya. Sebab untuk mengetahui sesuatu tidak hanya
dengan menghafal saja, tetapi harus dengan pengertian.
Maksud belajar adalah menyediakan pengalamn-pengalaman
untuk menghadapi soal-soal di masa depan. Jika pengalamn-pengalaman itu hanya
sesuatu yang statis, yang tidak berguna untuk adanya perubahan dalam tingkah
laku, maka hal tersebut tidak dinamakan proses belajar.
7. Belajar dan Latihan
Persamaanya adalah bahwa keduanya dapat menyebabkan
perubahan dalam tingkah laku, sikap dan pengetahuan. Akan tetapi antara
keduanya terdapat pula perbedaan. Di dalam praktek terdapat pula proses belajar
yang terjadi tanpa latihan.
Umpama, seorang anak yang terbakar tangannya di dapur,
sekali saja ia tahu bahwa api itu panas. Jadi belajar mempunyai arti yang lebih
luas daripada latihan.[5]
C. Ragam Alat
Belajar
Islam memandang umat manusia sebagai makhluk yang
dilahirkan dalam keadaan kosong, tak berilmu pengetahuan. Akan tetapi Tuhan
memberikan potensi yang bersifat jamaniah dan rohaniah untuk belajar dan
mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk kemaslahatan umat manusia
itu sendiri. Potensi-potensi tersebut terdapat dalam ragam-ragam fisio-psikis
manusia yang berfungsi sebagai alat-alat penting untuk melakukan kegiatan
belajar. Adapun ragam alat fisio-psikisitu adalah sebagai berikut!
1. Indera penglihat (mata), akni alat fisik yang berguna
untuk menerima informasi visual.
2. Indera pendengar (telinga), yakni alat fisik yang
berguna untuk menerima informasi verbal.
3. Akal, yakni potensi kejiwaan manusia berupa system
psikis yang kompleks untuk menyerap, mengolah, menyimpan, dan memproduksi
kembali item-item informasi dan pengetahuan (ranah kognitif).
Akat-alat
yang bersifat fisio-psikis itu dalam hubunganya dengan kegiatan belajar
merupakan subsistem-subsistem yang satu sama lain berhubungan secara
fungsional.[6]
BAB
II
FAKTOR-FAKTOR
YANG MEMPENGARUHI BELAJAR
Secara
global, faktor-faktor yang mempengaruhi belajar siswa daat dibedakan menjadi
tiga macam yaitu : Faktor Internal (faktor dari dalam siswa), yakni
keadaan/kondisi jasmani dan rohani siswa, Faktor Eksternal (faktor dari
luar siswa), yakni kondisi lingkungan di sekitar siswa, Faktor pendekatan
belajar (approach to learning), yakni jenis upaya belajar siswa yang
meliputi strategi dan metode yang digunakan siswa untuk melakukan kegiatan
pembelajaran materi-materi pelajaran.
1.
Faktor
Internal Siswa
Faktor yang berasal dari dalam diri siswa sendiri meliputi dua
aspek, yakni aspek fisiologis (yang bersifat jasmaniah), dan aspek psikologis
(yang bersifat rohaniah).
A. Aspek
Fisiologis
Kondisi umum jasmani dan tonus (tegangan otot) yang menandai
tingkat kebugaran organ-organ tubuh dan sendi-sendinya, dapat mempengaruhi
semangat dan intensitas siswa dalam mengikti pelajaran. Kondisi organ tubuh
yang lemah, apalagi disertai dengan pusing-pusing kepala misalnya, dapat menurunkan
kualitas ranah cipta (kognitif) sehingga materi yang dipelajarinya pun kurang
atau tidak berbekas. Untuk mempertahankan tonus jasmani agar tetap bugar, siswa
sangat dianjurkan mengonsumsi makanan dan minuman yang bergizi. Selain itu,
siswa juga dianjurkan memili pola istirahat dan olahraga ringan yang sedapat
mungkin terjadwal secara tetap dan berkesinambungan. Hal ini penting, sebab,
perubahan pola makan minum dan istirahat akan menimbulkan reaksi tonus yang
negatif dan merugikan semangat mental siswa itu sendiri.
Kondisi organ-organ khusus siswa, seperti tingkat kesehatan indera
pendengar dan indera penglihat, juga sangat mempengaruhi kemampuan siswa dalam
menyerap informasi dan pengtahuan, khususnya yang disajikan di dalam kelas.
Daya pendengaran dalam englihatan siswa yang rendah umpamanya, akan menyulitkan
sensory register dl menyerap item-item Informasi yang bersifat echoic dan
econic (gema dan citra). Akibatnya negatif selanjutnya adalah erhambatnya
proses informasi yang dilakukan oleh sistem memory siswa tersebut.
Untuk mengatasi kemungkinan dari timbulnya maslah mata dan telinga
di atas, anda selaku guru profesional seyogianya bekerja sama dengan pihak
sekolah untuk memperoleh bantuan pemeriksaan rutin (periodik) dari dinas-dinas
kesehatan setempat. Kiat lain yang tak kalah penting untuk mengtasi
kekurangsempurnaan penengaran dan penglihatan siswa-siswa tertentu itu ialah
dengan menempakan mereka di deretan bangku terdepan secara bijaksana. Artinya
anda tidak perlu menunjukan sikap dan alasan didepan kelas bahwa
mereka di tempatkan di depan kelas karena kekurangbaikan telinga dan mata
mereka. Langkah ini perlu di diambil untuk mempertahankan self-eteem dan
self-confidence siswa-siswa khusus tersebut. Kemrosotan self-eteem dan
self-confidence (rasa percaya diri) siswa akan menimbulkan frustasi yang akan
menjadikan siswa under-achiever atau mungkin gagal, meskipun kapasitas kognitif
mereka normal atau lebih tinggi daripada teman-temannya.
B. Aspek
Psikologis
Banyak faktor yang termasuk faktor psikologis yang dapat
mempengaruhi kuantitas dan kualitas perolehan pembelajaran siswa. Namun,
diantara faktor-faktor rohaniah siswa yang pada umumnya dipandang lebih
esesnsial itu adalah sebagai berikut:
1)
Tingkat
kecerdasan/inteligensi siswa
Inteligensi
pada umumnya dapat diartikan sebagai psiko-fisik untuk mereeaksi rangsangan
atau menyesuaikan diri dengan lingkungannya dengan cara tepat (Reber 1988).
Jadi inteligensi sebenarnya bukan kualitas kecerdasn otak saja, melainkan juga kualitas organ-organ tubuh lainnya. Akan
tetapi memang harus diakui bahwa peran otak dalam hubungannya dengan
inteligensi manusia lebih menonjol daripada peran organ-organ tubuh lainnya.
Lantaran otak merupakan “menara pengontrol” hampir seluruh aktivitas manusia.
Tingkat kecerdasan / inteligensi siswa tak dapat diragukan lagi, sangat
menentukan keberhasilan belajar siswa. Ini bermakna, semakin tinggi tingkat
inteligensi siswa maka semakin besar peluangnya untuk meraih sukses. Sebalikya,
semakin rendah tingkat inteligensi siswa, maka semakin kecil peluang untuk
meraih sukses.
2)
Sikap
siswa
Sikap
adalah gejala internl yang berdimensi afektif beerupa keenderungan untuk
mereaksi atau merespons (response tendency) dengan cara yang relatif
tetap terhadap objek orang, barang, dan sebaganya, baik secara postif maupun
negatif. Sikap (attitude) siswa yang positif, terutama kepada anda dan
mata pelajaran yang anda sajikan merupakan pertanda awal yang baik bagi proses
belajar siswa tersebut. Sebaliknya, sikap negatif siswa terhadap anda dan mata
pelajaran yang anda sajikan, apalagi diiringi dengan kebencian kepada anda atau
mata pelajaran anda dapat menimbulkan kesulitan belajar siswa tersebut. Selain
itu, sikap terhadap ilmu pengetahuan yang bersifat conversing walaupun
tidak menimbulkan kesulitan belajar, namun prestasi yang dcapai siswa urang
memuaskan.
Untuk
mengantisipasi kemungkinan munculnya sifat negatif siswa seperti tersebut di
atas, guru dituntut untuk terlebih dahulu menunjukkan sikap positif terhadap
dirinya sendiri dan terhadap mata pelajaran yang menjadi vaknya. Dalam hal
bersikap positif terhadap mata pelajarannya, seorang guru sangat dianjurkan
senantiasa untuk menghargai dan mencintai profesinya. Guru yang demikian tidak
hanya menguasai bahan-bahan yang terdapat dalam bidang studinya, tetapi juga
mampu meyakinkan terhadap para siswa akan manfaat bidang studi itu bagi
kehidupan mereka. Dengan meyakini manfaat bidang studi tertentu, siswa akan
merasa membutuhkannya, dari perasaan butuh itulah diharapkan muncul sikap
positif terhadap bidang studi tersebut sekaligus terhadap guru yang
mengajarkannya.
3)
Bakat
siswa
Secara
umum bakat (aptitude) adalah kemampuan
potensial yang dimiliki seseorang untuk mencapai keberhasilan pada masa yang
akan datang. Dengan demikian, setiap orang pasti memiliki bakat dalam arti
berpotensi untuk mencapai prestasi sampai ke tingkat tertentu sesuai dengan
kapasitas masing-masing. Jadi secara global, bakat itu mirip dengan
inteligensi. Itulah sebabnya seoang anak yang berinteligensi sangat cerdas (superior) atau cerdas luar biasa (very superior) disebut juga sebagai talented child, yakni
anak berbakat.
Dalam
perkembangan selanjutnya, bakat kemudian diartikan sebagai kemampuan individu
untuk melakukan tugas tertentu tanpa banyak bergantung pada upaya pendidikan
dan latihan. Seorang siswa yang berbakat dalam bidang elektro, misalnya, akan
jauh lebih mudah menyerap informasi, pengetahua, dan keterampilan yang
berhubungan dengan bidang tersebut dibanding dengan siswa lainnya, inilah yang
kemudian disebut baka khusus (spesifik
aptitude).
Sehubungan
dengan hal di atas, bakat akan dapat mempengaruhi tinggi rendahnya prestasi
elajar dibidang studi tertentu.
4)
Minat
siswa
Secara sederhana minat (interest)
berarti kecenderungan dan kegairahan yang tinggi atau keinginan yang besar
terhadap sesuatu. Menurut Riber (1988) minat tidak termasuk istilah populer
dalam psikologi karena ketergantungnya yang banyak terhadap faktor-faktor
internal lainnya seperti rasa keingintahuan, pemusatan perhatian, dan kebutuhan.
Namun telepas dari masalah populer atau tidak, minat seperti yang dipahami dan
dipakai orang selama ini dapat mempengaruhi kualitas pencapaian hasil belajar
siswa dalam bidang studi tertentu.
5)
Motivasi
siswa
Pengertian
dasar motivasi adalah keadaan internal organisme baik manusia ataupun hewan
yang mendorongya untuk berbuat sesuatu. Dalam pengertian ini motivasi berarti
pemasok daya (energizer) untuk bertingkh laku secara terarah.
Dalam
perkembangan selanjutnya motivasi dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu
motivasi intrinsik, dan motivasi ekstrinsik. Motivasi intrinsik yaitu hal dan
keadaan yang berasal dari dalam diri siswa sendiri yang dapat mendorongnya
melakukan tindakan belajar. Seperti perasaan menyenangi materi dan kebutuhannya
terhadap materi tersebut.
Adapun
motivasi ekstrinsik yaitu hal dan keadaan yang datang dari luar individu siswa
yang juga mendorongnya untuk melakukan beajar, seperti pujian, hadiah,
peraturan skolah, suri teladan, orang tua, guru dan seterusnya. Kekurangan atau
ketiadaan motivasi baik yang bersifat intrinsik maupun ekstrinsik akan
menyebabkan kurang bersemangatnya siswa dalam melakukan proses pembelajaran.[7]
2.
Faktor
Eksternal Siswa
A.
Lingkungan Sosial
Lingkungan sosial sekolah seperti para guru, para staff
administrasi, dan teman-teman belajar dapat mempengaruhi semangat belajar
siswa. Para guru yang selalu menunjukan sikap dan
perilaku yang simpatik dan memperlihatkan suri teladan yang baik dan rajin
khususnya dalam hal belajar, misalnya rajin membaca dan berdiskusi, dapat
menjadi daya dorong yang positif bagi kegiatan belajar siswa.
Selanjutnya yang termasuk lingkungan sosial
siswa adalah masyarakat dan tetanga juga teman-teman sepermainan di sekitar
perkampungan siswa tersebut. Kondisi masyarakat di lingkungan kumuh yang serba
kekurangan dan anak-anak penganggur, misalnya akan sangat mempengaruhi
aktivitas belajar siswa.
Lingkungan sosial yang lebih banyak
mempengaruhi kegiatan belajar siswa adalah orang tua dan keluarga siswa itu
sendiri. Sifat – sifat orang tua, praktik pengelolaan keluarga, ketegangan
keluarga, dan demografi keluarga semuanya dapat memberi dampak ataupun buruk
terhadap kegiatan belajar dan hasil yang dicapai siswa. Contoh : kebiasaan yang
diterapkan orang tua siswa dalam mengelola keluarga yang keliru, seperti
kelalaian orang tua dalam memonitor kegiatan anak, dapat menimbulkan dampak
terhadap anak yang lebih buruk lagi.
B.
Lingkungan
Nonsosial
Faktor-faktor
yang termasuk lingkungan nonsosial
adalah gedung sekolah dan letaknya, rumah tempat tinggal keluarga siswa dan
letaknya, alat-alat belajar, keadaan cuaca dan waktu belajar yang digunakan
siswa. Factor ini dipandang turut menentukan keberhasilan belajar siswa.
Contoh, kondisi
rumah yang sempit dan berantakan serta perkampungan yang terlalu padat dan
tidak memiliki saran umum untuk kegiatan remaja akan mendorong siswa ke
tempat-tempat yang sebenarnya tak pantas dikunjungi. Kondisi rumah dan
perkampungan seperti itu jelas berpengaruh buruk pada kegiatan belajar siswa.
Khusus mengenai
waktu yang disenangi untuk belajar (studi time preference) seperti pagi atau
sore hari, seorang ahli bernama J. Biggers (1980) berpendapat bahwa belajar
pada pagi hari lebih efektif daripada belajar pada waktu-waktu lainnya. Namun
menurut penelitian beberapa ahli gaya belajar (learning style), hasil belajar
itu tidak bergantung pada waktu secara mutlak, tetapi bergantung pada pilihan
waktu yang cocok dengan kesiapsiagaan siswa. Di antara siswa ada yang siap
belajar pada pagi hari ada yang siap belajar pada sore hari, bahkan tengah
malam.
Dengan demikian,
waktu yang digunakan belajar siswa selama ini sering dipercaya terhadap
prestasi belajar siswa, tak perlu dihiraukan.
3.
Faktor
Pendekatan Belajar
Pendekatan belajar, dipahami
sebagai segala cara atau strategi yang digunakan siswa dalam menunjang
efktivitas dan efisiensi proses pembelajaran materi tertentu strategi dalam hal
ini berarti seperangkat langkah operasional yang direkayasa sedemikian rupa
untuk memecahkan masalah atau mencapai tujuan belajar tertentu (Lawson, 1991).
Disamping faktor internal
dan eksternal siswa sebagaimana yang telah dipaparkan, faktor pendekatan
belajar juga berpengaruh terhadap taraf keberhasilan belajar siswa. Seorang
siswa yang terbiasa mengaplikasikan pendekatan belajar misalnya, mungkin sekali
berpeluang untuk meraih prestasi belajar. [8]
PENUTUP
A.
Simpulan
Dari urain diatas, dapat ditarik beberapa
kesimpulan :
Belajar adalah kegiatan yang berproses dan
merupakan unsur yang sangat fundamental dalam setiap penyelenggaraan jenis dan
jenjang pendidikan. Ini berarti bahwa berhasil atau gagalnya pencapaian
pendidikan itu, amat bergantung pada
proses belajar yang dialami siswa. Baik ketika ia berada dilingkungan sekolah
maupun di lingkungan rumah atau keluarganya sendiri.
Berlangsungnya proses belajar dapat melalui :
1. Belajar dan Kematangan
2. Belajar dan Penyesuaian Diri
3. Belajar dan Pengalaman
4. Belajar dan bermain
5. Belajar dan Pengertian
6. Belajar dan Menghafal
7. Belajar dan Latihan
Faktor Yang Mempengaruhi
Belajar
|
||
Internal Siswa
|
Eksternal Siswa
|
Pendekatan Belajar Siswa
|
A.
Aspek Fisiologis
-
Tonus Jasmani
-
Mata dan telinga
B.
Aspek Psikologis
-
Inteligensi
-
Sikap
-
Minat
-
Bakat
-
Motivasi
|
A.
Lingkungan Sosial
-
Keluarga
-
Guru dan staff
-
Masyarakat
-
Teman
B.
Lingkungan
Nonsosial
-
Rumah
-
Sekolah
-
Peralatan
-
Alam
|
-
|
B.
Saran
Dari hasil makalah yang telah dibuat oleh kami, tentunya
banyak kesalahan serta kekurangannya, oleh karena itu kami mohon saran dari pembaca bila
mana pembaca menemukan kekurangan yang ada dalam makalah ini. Dan kami harapkan
semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua khususnya bagi pembaca yang budiman.
DAFTAR PUSTAKA
Makmun, Abin
Syamsudin, 2004, Psikologi Pendidikan,
Bandung : Remaja Rosdakarya
Suradi, Dedy, 2007, Psikologi
Pendidikan, Bandung : Remaja Rosdakarya
Syah, Muhibbin, 2007, Psikologi Pendidikan, Bandung : Remaja Rosdakarya

Tidak ada komentar:
Posting Komentar